KEBALANPELANG – Dalam upaya memperkuat kesehatan masyarakat serta menciptakan lingkungan yang higienis dan bebas patogen, Mahasiswa Membangun Desa (MMD) Kelompok 55 Universitas Brawijaya (UB) menggelar program kerja pemberdayaan masyarakat bertema pengenalan desinfektan alami dari serai (Cymbopogon citratus) sebagai biosecurity ramah lingkungan. Kegiatan ini dilaksanakan di Balai Desa Kebalanpelang, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan pada Rabu (15/7/2026).
Kegiatan ini dilaksanakan melalui kolaborasi dengan kegiatan rutin PKK Desa Kebalanpelang, sehingga edukasi sanitasi dan biosecurity dapat disampaikan secara terpadu kepada para kader PKK yang menjadi penggerak kesehatan lingkungan di tingkat RT dan RW.
Inovasi ini memanfaatkan potensi berupa minyak atsiri yang terkandung melimpah di dalam tanaman serai. Senyawa aktif utama seperti citral, sitronelal, dan geraniol bekerja secara efektif sebagai agen antibakteri, antiseptik, sekaligus repellent atau zat penolak alami yang tidak disukai oleh serangga pengganggu seperti nyamuk Aedes aegypti. Penggunaan ekstrak serai ini ditujukan untuk memutus ketergantungan masyarakat terhadap produk sanitasi dan desinfektan kimia sintetis yang berisiko menimbulkan iritasi kulit, gangguan pernapasan, merusak ekosistem, memicu resistensi mikroba, serta membahayakan kesehatan manusia jangka panjang.
Dalam demonstrasi, proses pembuatan desinfektan alami ramah lingkungan ini menerapkan metode ekstraksi perebusan dan pelarutan yang tergolong sangat mudah serta ekonomis untuk dipraktikkan dalam skala rumah tangga. Bahan baku utama berupa satu kilogram tanaman serai dapur dibersihkan dan dipotong kecil-kecil terlebih dahulu agar dinding selnya terbuka dan minyak atsiri terekstrak secara optimal. Hasil potongan serai tersebut kemudian direbus bersama tiga liter air bersih hingga mendidih dan minyak atsirinya terlarut secara sempurna, kemudian disaring dan didinginkan sebelum dicampur dengan perasan jeruk nipis serta pelarut alkohol 70%.
Pengaplikasian desinfektan alami di lapangan membutuhkan proses pengenceran dan penyesuaian dosis yang tepat. Masyarakat dapat mencampurkan ekstrak serai murni dengan pelarut alkohol 70% menggunakan rasio 3:1sebelum dimasukkan ke dalam botol penyemprot (spray). Penambahan perasan air jeruk nipis juga diperlukan yang berfungsi sebagai pembersih alami (cleansing agent) sekaligus pemberi aroma segar, sehingga larutan desinfektan tidak hanya efektif membunuh kuman patogen seperti Escherichia coli pada permukaan perabotan rumah tangga, tetapi juga menghasilkan tingkat pH 5 yang teruji aman dan tidak menyebabkan iritasi pada kulit manusia.
Sosialisasi dan pelatihan ini sejalan dengan komitmen pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) serta poin ke-12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab). Melalui reduksi penggunaan bahan kimia sintetis, potensi paparan racun dan zat berbahaya pada keluarga maupun lingkungan desa dapat dikurangi. Di sisi lain, praktik biosecurity berbasis bahan alam ini menjadi fondasi penting dalam memelihara sanitasi rumah tangga, meminimalkan pencemaran lingkungan, serta mendorong pola hidup sehat yang jauh lebih berkelanjutan.
Sebagai penutup rangkaian acara, tim MMD Kelompok 55 UB menyerahkan poster panduan visual dan brosur petunjuk teknis pembuatan desinfektan alami secara fisik kepada Pengurus Kader PKK Desa Kebalanpelang untuk dijadikan acuan pembelajaran berkelanjutan.
Sosialisasi dan pelatihan ini diharapkan mampu menumbuhkan kemandirian masyarakat dan ibu-ibu kader PKK di Desa Kebalanpelang dalam memproduksi sarana sanitasi serta biosecurity secara mandiri dan berkelanjutan. Ibu-ibu kader PKK Desa Kebalanpelang memberikan apresiasi tinggi terhadap inovasi teknologi tepat guna ini dan berharap kegiatan edukasi serupa dapat terus berlanjut, mengingat pemeliharaan lingkungan bersih dan sehat membutuhkan konsistensi serta peran aktif perempuan di tingkat rumah tangga.