KEBALANPELANG – Mahasiswa Membangun Desa (MMD UB) Kelompok 55 melaksanakan program kerja “Lindungi Diriku, Jaga Masa Depanku” di Aula MI Tarbiyatul Athfal, Desa Kebalanpelang, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, pada Selasa (28/7/2026). Program edukasi ini menyasar siswa kelas 5 dan 6 dengan fokus pada pencegahan kekerasan seksual, pengenalan batasan tubuh pribadi, serta bahaya pacaran dini.
Program ini digagas menyusul data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) yang mencatat lebih dari 14 ribu kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak hingga Juli 2025. Kondisi tersebut diperburuk dengan masih minimnya pendidikan seksual dan pengetahuan tentang batasan tubuh pribadi di kalangan anak usia sekolah dasar, terutama di wilayah pedesaan.
Ketua pelaksana program, Siti Nazwa Ramadhani Fantisa, menjelaskan bahwa pemilihan tema ini didasari kekhawatiran atas minimnya pemahaman anak mengenai batasan tubuh pribadi, rendahnya keberanian untuk menolak dan melapor ketika mengalami situasi yang tidak nyaman, serta maraknya fenomena pacaran dini.
“Anak-anak usia 10 sampai 12 tahun itu sedang berada di masa transisi yang sangat rentan.
Mereka mulai penasaran dengan tubuhnya, mulai aktif di media sosial, tapi sering kali tidak dibekali pemahaman yang benar tentang batas tubuh pribadi dan cara melindungi diri. Lewat program ini kami ingin memastikan mereka tahu, berani, dan aman,” ujar Nazwa.
Kegiatan diawali dengan pre-test untuk mengukur pemahaman awal siswa, sebelum masuk ke sesi ice breaking berupa dua tepuk edukatif, yaitu Tepuk “Aku Tahu, Aku Berani, Aku Aman” dan Tepuk “Area Privasiku”. Kedua tepuk ini dirancang dengan gerakan dan lirik sederhana agar siswa secara tidak langsung menghafal pesan utama program, yakni keberanian untuk menjaga dan melindungi area tubuh pribadi.
Setelah suasana mencair, tim melanjutkan dengan pemutaran video edukasi pemantik berjudul “Aku Tahu, Aku Berani, Aku Aman”, kemudian masuk ke pemaparan materi utama melalui presentasi PowerPoint interaktif yang dilengkapi ilustrasi berwarna, animasi sederhana yang dekat dengan keseharian anak. Materi yang disampaikan mencakup pengenalan bagian tubuh pribadi yang harus dilindungi, pengenalan modus-modus pelaku kekerasan seksual, keterampilan menolak dengan tegas, pentingnya segera melapor kepada orang dewasa yang dipercaya, hingga penjelasan mengenai dampak jangka panjang pacaran dini terhadap kesehatan fisik, psikologis, dan pendidikan anak.
Satu hal yang membedakan sesi ini dari penyuluhan pada umumnya adalah dihadirkannya sesi roleplay atau bermain peran, di mana siswa diajak mempraktikkan langsung situasisituasi yang berpotensi berbahaya. Melalui roleplay ini, siswa berlatih mengucapkan penolakan secara tegas sekaligus sopan, kemudian mempraktikkan langkah selanjutnya, yaitu segera menjauh dan melaporkan kejadian tersebut kepada guru atau orang tua.
“Roleplay kami pilih karena anak-anak desa lebih mudah menyerap pelajaran lewat praktik langsung dan cerita, bukan sekadar ceramah. Dengan bermain peran, mereka tidak hanya tahu secara teori, tapi benar-benar berlatih reaksi tubuh dan kalimat penolakan, sehingga kalau suatu saat menghadapi situasi serupa, mereka sudah punya keberanian dan refleks yang tepat,” jelas Nazwa.
Selama sesi berlangsung, siswa tampak antusias mengikuti diskusi interaktif dan aktif mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan pemantik yang dilontarkan tim. Suasana yang dibangun secara hangat sehingga membuat siswa berani menjawab dengan percaya diri tanpa rasa malu.
Di akhir sesi, tim mahasiswa menyerahkan poster edukasi “Lindungi Diriku, Jaga Masa Depanku” kepada pihak MI Tarbiyatul Athfal yang diterima langsung oleh kepala sekolah untuk dipajang secara permanen di lingkungan sekolah sebagai media pengingat visual bagi siswa. Sebagai penutup rangkaian kegiatan, tim memberikan post-test kepada siswa untuk mengukur secara langsung peningkatan pemahaman mereka setelah mengikuti seluruh rangkaian materi, ice breaking, dan roleplay.
Kegiatan ini turut mendapat dukungan penuh dari pihak MI Tarbiyatul Athfal Kebalanpelang serta guru-guru kelas 5 dan 6 yang membantu penyesuaian jadwal agar tidak mengganggu proses belajar mengajar reguler. Program “Lindungi Diriku, Jaga Masa Depanku” merupakan bagian dari komitmen MMD UB Kelompok 55 dalam mendukung Tujuan Pembangunan
Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG nomor 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera serta SDG nomor 4 tentang Pendidikan Berkualitas, sekaligus sejalan dengan amanat UndangUndang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.
Nazwa berharap program ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial semata, melainkan dapat terus dimanfaatkan sekolah maupun pemerintah desa sebagai bahan edukasi berkelanjutan setelah masa MMD berakhir.
“Saya berharap poster ini tidak sekadar menjadi hiasan, tetapi benar-benar dibaca dan diingat siswa setiap hari. Harapannya, anak-anak Kebalanpelang tumbuh menjadi generasi yang berani bersuara, paham hak atas tubuhnya sendiri, dan memiliki masa depan yang lebih aman,” pungkasnya.
Melalui program ini, mahasiswa MMD UB Kelompok 55 menunjukkan bahwa isu perlindungan anak yang selama ini dianggap tabu di banyak wilayah pedesaan dapat disampaikan secara ramah, interaktif, dan menyenangkan, tanpa mengurangi ketegasan pesan tentang pentingnya keselamatan tubuh sejak usia dini.